Artikel ini mengulas perjuangan Ekamaida menempuh S3 di IPB University sambil menjalani peran sebagai ibu dan dosen.
Menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral bukanlah perjalanan yang ringan, terlebih ketika harus dijalani bersamaan dengan tanggung jawab sebagai ibu dan tenaga pendidik. Peran ganda tersebut menuntut ketangguhan fisik, kestabilan emosi, serta kemampuan mengatur waktu secara disiplin.
Ikuti berita terbaru dan terpercaya yang kami sajikan hanya bisa anda baca di Aceh Indonesia.
Tekad Menembus Batas Dari Aceh Ke Bogor
Menjadi ibu sekaligus dosen tidak menghalangi langkah Ekamaida untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral. Perempuan asal Aceh ini membuktikan bahwa status berkeluarga bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia memilih menempuh studi S3 di IPB University meski harus berjauhan dari keluarga.
Keputusan tersebut membuatnya rutin melakukan perjalanan panjang Aceh–Bogor. Jarak ribuan kilometer bukan perkara mudah, terlebih ketika tanggung jawab domestik tetap menanti. Namun bagi Eka, pendidikan adalah investasi masa depan yang tak ternilai.
Sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, ia sadar peningkatan kompetensi akademik adalah kebutuhan. Tekad itulah yang menjadi bahan bakar semangatnya bertahan di tengah situasi serba terbatas. Ia ingin membuktikan bahwa perempuan mampu berdiri tegak di dua dunia sekaligus.
Kegagalan Yang Berubah Menjadi Kesempatan
Perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Pada 2019, ia sempat gagal memperoleh Beasiswa Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM). Penolakan tersebut memaksanya menunda rencana studi dan menata ulang strategi.
Alih-alih menyerah, Eka memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan diri lebih matang. Ia memperbaiki proposal riset, memperkuat dokumen pendukung, dan memperdalam kesiapan mental. Kegagalan justru menjadi titik balik untuk bangkit lebih kuat.
Kesempatan datang ketika ia mendaftar beasiswa dari LPDP pada 2020. Hasilnya di luar dugaan, ia dinyatakan lolos dan resmi melanjutkan studi doktoral. Momen tersebut menjadi jawaban atas doa dan kesabarannya.
Baca Juga: Kata Mendagri Tito! Pemda Bisa Gunakan Dana TKD Untuk Atasi Dampak Banjir Bandang
Peran Ganda Yang Menguras Energi
Menjalani tiga peran sekaligus sebagai ibu, dosen, dan mahasiswa doktoral bukan hal ringan. Waktu dan tenaga terkuras untuk membagi fokus antara keluarga dan tanggung jawab akademik. Ia harus pintar mengatur prioritas agar semuanya berjalan seimbang.
Tantangan semakin terasa ketika anaknya mengalami skoliosis. Kondisi itu membuatnya beberapa kali harus pulang mendadak ke Aceh. Situasi darurat tersebut menguji ketahanan fisik sekaligus emosinya.
Di titik terendah, ia sempat merasa ingin mengakhiri studi. Namun dorongan dari keluarga, pembimbing, dan rekan-rekan kampus membuatnya bertahan. Baginya, setiap kesulitan adalah bagian dari proses menuju pencapaian.
Dukungan Lingkungan Akademik Yang Menguatkan
Selama menempuh studi di Program Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Sekolah Pascasarjana, Eka merasakan atmosfer akademik yang suportif. Para dosen dan pembimbing memberikan arahan yang membangun. Ia merasa diterima dan dihargai sebagai mahasiswa sekaligus profesional.
Lingkungan kampus yang kondusif membantunya tetap fokus pada penelitian. Ia dapat berdiskusi terbuka dan memperoleh masukan yang memperkaya sudut pandang ilmiahnya. Hal ini mempercepat proses penyelesaian disertasi.
Menurutnya, dukungan moral menjadi energi tambahan yang tak terlihat namun sangat berarti. Kebersamaan dengan komunitas akademik membuatnya yakin tidak berjuang sendirian. Rasa nyaman itu memperkuat langkahnya hingga akhir studi.
Gelar Doktor Sebagai Simbol Keteguhan
Seluruh perjuangan panjang itu berbuah manis. Eka berhasil menuntaskan pendidikan doktoralnya dan meraih gelar yang diimpikan. Pencapaian tersebut menjadi simbol keteguhan hati dalam menghadapi berbagai keterbatasan.
Bagi dirinya, gelar doktor bukan sekadar titel akademik. Itu adalah bukti bahwa jarak, peran ganda, dan ujian keluarga bukan penghalang mutlak. Selama ada niat, usaha, dan doa, jalan akan selalu terbuka.
Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak perempuan yang ragu melanjutkan pendidikan. Ia menunjukkan bahwa mimpi tetap bisa diperjuangkan tanpa harus meninggalkan identitas sebagai ibu dan pendidik. Perjalanan Aceh–Bogor menjadi saksi bahwa ketekunan mampu menembus batas apa pun.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama: detik.com
- Gambar Kedua: radarbogor.com