Rumah Zakat bekerja sama dengan HIMPSI dan CCP UIN Ar-Raniry, kini mengirim sukarelawan psikososial ke Aceh Utara Bireuen.
Selain kerugian materiil, dampak psikologis, terutama bagi anak-anak dan remaja, seringkali terabaikan. Memahami kebutuhan krusial ini, Rumah Zakat berkolaborasi dengan para ahli psikologi untuk menyentuh hati para penyintas, membawa harapan dan pemulihan.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Aceh di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Aceh Indonesia.
Kolaborasi Kemanusiaan, Respons Cepat Untuk Pemulihan Jiwa
Rumah Zakat (RZ) menunjukkan kepeduliannya dengan menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Aceh dan Crisis Center Psychology (CCP) Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry. Kolaborasi strategis ini bertujuan untuk memberikan dukungan psikososial yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terdampak banjir.
Sebanyak sepuluh sukarelawan profesional telah diberangkatkan untuk misi kemanusiaan ini. Para sukarelawan akan fokus pada penanganan trauma dan pemulihan mental, melengkapi bantuan materiil yang sebelumnya telah disalurkan oleh Rumah Zakat.
Menurut Riadhi, Branch Manager Rumah Zakat Aceh, layanan psikososial ini merupakan bagian integral dari upaya pemulihan pascabencana. Ini menunjukkan bahwa pemulihan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga mental dan emosional para korban.
Fokus Layanan, Membangun Kembali Mental Dan Semangat
Para sukarelawan akan memberikan pelayanan di sepuluh sekolah dan sepuluh titik pengungsian yang tersebar di Aceh Utara dan Bireuen. Lokasi-lokasi ini dipilih untuk menjangkau sebanyak mungkin korban, terutama anak-anak dan remaja yang paling rentan.
Harri Santoso, koordinator program, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah memberikan dukungan psikologis, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Mereka seringkali kesulitan mengungkapkan trauma yang dialaminya, sehingga pendampingan khusus sangat diperlukan.
Selama satu minggu, para sukarelawan akan menyapa dan mendampingi para penyintas. Mereka akan berinteraksi di sekolah, titik pengungsian, dan desa-desa terdampak, memberikan “trauma healing” melalui berbagai aktivitas positif.
Baca Juga: Pengabdian Guru Di Aceh Tengah: Setiap Hari Menantang Maut Demi Pendidikan
Pentingnya Trauma Healing Pasca-Bencana
Bencana alam, seperti banjir bandang, dapat menimbulkan trauma mendalam. Kehilangan harta benda, tempat tinggal, bahkan orang terkasih, merupakan pengalaman yang sulit diatasi tanpa dukungan yang tepat. Oleh karena itu, trauma healing menjadi sangat esensial.
Pendampingan psikososial membantu korban memahami dan mengelola emosi mereka, mengurangi stres, dan membangun kembali resiliensi. Ini adalah langkah krusial untuk mencegah dampak jangka panjang seperti depresi atau kecemasan yang berkelanjutan.
Program ini membuktikan bahwa pemulihan bencana tidak hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur fisik. Kesehatan mental masyarakat, terutama kelompok rentan, harus menjadi prioritas utama dalam setiap upaya penanggulangan bencana.
Dampak Positif Dan Harapan Masa Depan
Kehadiran para sukarelawan psikososial ini diharapkan mampu memberikan energi positif bagi para penyintas. Melalui pendampingan yang hangat dan profesional, mereka diharapkan bisa pulih dari trauma dan kembali menjalani kehidupan dengan semangat baru.
Inisiatif Rumah Zakat bersama HIMPSI dan CCP UIN Ar-Raniry ini menjadi contoh nyata kolaborasi antarlembaga dalam misi kemanusiaan. Ini menunjukkan bahwa dengan sinergi, dampak positif yang diberikan kepada masyarakat dapat menjadi lebih besar dan berkelanjutan.
Diharapkan, program semacam ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi pihak lain untuk lebih memperhatikan aspek psikososial pascabencana. Pemulihan jiwa adalah fondasi penting bagi bangkitnya sebuah komunitas dari keterpurukan.
Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari aceh.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari kompasiana.com