BPS

  • |

    Aceh Geger! Produksi Beras Anjlok 25 Ribu Ton di 2025, Ternyata Ini Biang Keroknya!​

    Produksi beras Aceh anjlok 25 ribu ton sepanjang 2025, menimbulkan kekhawatiran ketahanan pangan daerah setempat.

     Aceh Geger! Produksi Beras Anjlok 25 Ribu Ton di 2025, Ternyata Ini Biang Keroknya!​

    BPS mencatat penurunan signifikan produksi beras di Aceh selama 2025, mencapai 25,79 ribu ton dibanding tahun sebelumnya. Produksi tertinggi terjadi pada Maret, tetapi merosot tajam di Juli. Data ini diumumkan Plh Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamudin, dalam konferensi pers, Senin 2 Februari 2026.

    Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Aceh di bawah ini hanya ada di Aceh Indonesia.

    Penurunan Produksi Padi Dan Luas Panen

    Berdasarkan hasil survei kerangka sampel area (KSA), realisasi luas panen padi di Aceh sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat sebesar 283,18 ribu hektare. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 18,01 ribu hektare atau 5,98 persen dibandingkan dengan luas panen pada tahun 2024. Penurunan luas panen ini menjadi salah satu faktor utama anjloknya produksi.

    Puncak panen padi pada tahun 2025 masih sama seperti tahun 2024, yaitu terjadi pada bulan Maret. Meskipun demikian, total produksi padi sepanjang tahun 2025 hanya mencapai sekitar 1,62 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini mengalami penurunan sebesar 2,7 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1,66 juta ton GKG.

    Tasdik Ilhamudin menjelaskan bahwa produksi padi tertinggi pada tahun 2025 terjadi pada bulan Maret, mencapai 294,61 ribu ton GKG. Sebaliknya, produksi terendah tercatat pada bulan Juli, dengan angka sekitar 12,08 ribu ton GKG. Fluktuasi ini menunjukkan adanya tantangan musiman yang signifikan dalam sektor pertanian padi di Aceh.

    Konversi Padi ke Beras Dan Dampaknya

    Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, total produksi beras selama 12 bulan di tahun 2025 setara dengan 930,49 ribu ton. Angka ini mengalami penurunan sebesar 25,79 ribu ton dibandingkan dengan produksi beras pada tahun 2024. Penurunan ini berdampak langsung pada ketersediaan pangan lokal.

    Produksi beras tertinggi pada tahun 2025 terjadi pada bulan Maret, mencapai 169,72 ribu ton. Ini selaras dengan puncak panen padi yang juga terjadi di bulan yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa periode panen raya sangat krusial dalam menopang kebutuhan beras masyarakat.

    Sebaliknya, produksi beras terendah tercatat pada bulan Juli, hanya sebesar 6,96 ribu ton. Penurunan drastis ini mengindikasikan adanya periode paceklik yang cukup parah, di mana ketersediaan beras dari hasil panen lokal sangat terbatas. Hal ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

    Baca Juga: BKSDA Pastikan Satwa Liar Dari Penindakan Ekspor Ilegal Tetap Sehat dan Terawat

    Metodologi Perhitungan Dan Data Jagung

     Metodologi Perhitungan Dan Data Jagung

    Tasdik menjelaskan bahwa angka produksi padi diperoleh melalui metode yang mengintegrasikan dua sistem pengumpulan data. Pertama, survei KSA padi digunakan untuk menghasilkan data luas panen. Kedua, survei ubinan diaplikasikan untuk mendapatkan angka produktivitas per hektare.

    Perkalian antara luas panen dan produktivitas inilah yang kemudian menghasilkan angka produksi padi secara keseluruhan. Selanjutnya, melalui proses konversi gabah, dihasilkan indikator turunan berupa produksi beras. Metodologi ini memastikan akurasi data yang dilaporkan oleh BPS.

    Selain padi, BPS juga mencatat data produksi jagung pipilan. Luas panen jagung pipilan pada tahun 2025 mencapai sekitar 8,46 ribu hektare, mengalami penurunan sebesar 1,63 ribu hektare atau 16,20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Puncak panen jagung pada 2025 terjadi pada Juni, berbeda dengan 2024 yang di Januari.

    Penurunan Produksi Jagung Dan Tantangan Kedepan

    Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 28 persen sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 63,23 ribu ton. Jumlah ini mengalami penurunan sebesar 7,45 ribu ton atau 10,54 persen dibanding tahun 2024. Penurunan ini menambah daftar tantangan di sektor pertanian Aceh.

    Jika produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 28 persen tersebut dikonversikan ke kadar air 14 persen, hasilnya sekitar 46,74 ribu ton. Angka ini juga menunjukkan penurunan sebesar 5,51 ribu ton (10,54 persen) dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 52,25 ribu ton. Penurunan ini mengindikasikan adanya isu-isu yang perlu diatasi.

    Data penurunan produksi beras dan jagung ini menyoroti perlunya strategi komprehensif untuk meningkatkan ketahanan pangan di Aceh. Perubahan iklim, manajemen lahan, serta dukungan petani perlu menjadi fokus utama untuk memastikan ketersediaan pangan yang stabil di masa mendatang.

    Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    • Gambar Utama dari detik.com
    • Gambar Kedua dari ajnn.net