Pidie Jaya Darurat! Sungai Tertimbun Lumpur Setinggi Rumah, Warga Terancam Banjir Susulan!
Lumpur setinggi rumah menumpuk di Sungai Krueng Meureudue, mengancam warga Pidie Jaya dengan banjir susulan.
Hampir dua bulan pascabanjir bandang November 2025, Pidie Jaya masih dilanda duka dan ancaman. Sungai utama, terutama Krueng Meureudue, tertimbun lumpur tebal, menghambat aktivitas warga, mengganggu distribusi logistik, dan menimbulkan kekhawatiran banjir susulan yang lebih parah jika hujan deras kembali turun.
Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Aceh di bawah ini hanya ada di Aceh Indonesia.
Bencana Menghampiri, Lumpur Menggunung
Banjir bandang November 2025 meninggalkan kehancuran serius di Pidie Jaya. Dasar Sungai Krueng Meureudue tertimbun lumpur setinggi 3–4 meter, setara tinggi rumah penduduk, menghambat aliran air secara drastis dan menciptakan pemandangan mengkhawatirkan.
Kondisi diperparah curah hujan tinggi di wilayah tersebut. Setiap hujan deras, sungai sering meluap dan menggenangi kembali jalan yang sebelumnya dibersihkan. Akibatnya, beberapa kecamatan seperti Meurah Dua kembali terendam, menyulitkan mobilitas warga dan menghambat pemulihan pascabanjir.
Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya telah melakukan penanganan awal, termasuk membersihkan kayu terbawa banjir di DAS Krueng Meureudue. Tantangan utama masih pada pembersihan lumpur masif, yang membutuhkan peralatan dan penanganan khusus. Skala bencana ini membutuhkan intervensi pihak yang lebih berwenang.
Kendala Berat Dalam Pembersihan
Proses pembersihan lumpur di Krueng Meureudue menghadapi kendala besar, terutama terkait alat berat yang dibutuhkan. Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, menjelaskan bahwa alat berat yang ada tidak mampu membersihkan lumpur karena kerap tenggelam dalam gumpalan lumpur yang tebal. Kondisi ini membuat upaya pembersihan menjadi sangat sulit dan memakan waktu.
Selain masalah teknis, wewenang penanganan lumpur di sungai juga menghambat proses pembersihan. Lumpur di Krueng Meureudue menjadi tanggung jawab Balai Wilayah Sungai (BWS), bukan sepenuhnya pemerintah daerah. Oleh karena itu, Pemkab Pidie Jaya telah melaporkan kondisi ini kepada BWS agar segera ditangani secara komprehensif.
Keterbatasan alat dan kewenangan yang terbagi menyebabkan penanganan lumpur berjalan lambat. Meskipun tim di lapangan bekerja keras, volume lumpur yang sangat besar dan kendala alam, seperti hujan terus-menerus, membuat proses pemulihan terhambat. Koordinasi dan bantuan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini secara efektif.
Baca Juga: Bandara Jakarta Digegerkan Penyelundupan 1,9 Kg Sabu Dari Aceh
Ancaman Banjir Susulan Menghantui
Dengan kondisi dasar sungai yang masih tertimbun lumpur tebal, ancaman banjir susulan menjadi sangat nyata bagi masyarakat Pidie Jaya. Ketika curah hujan kembali meningkat, kapasitas sungai untuk menampung volume air menjadi sangat terbatas. Akibatnya, air akan dengan mudah meluap dan menggenangi permukiman warga, bahkan ke rumah-rumah.
Meskipun beberapa ruas jalan di Kecamatan Meurah Dua sempat dibersihkan, tingginya curah hujan menyebabkan jalan-jalan tersebut kembali tergenang. Contohnya di Meunasah Bie, jalanan yang tadinya sudah bersih kini kembali terendam air. Hal ini menunjukkan betapa rentannya wilayah tersebut terhadap luapan air sungai yang disebabkan oleh penumpukan lumpur.
Sibral Malasyi juga menyoroti pentingnya membersihkan gundukan tanah di pinggir jalan yang seharusnya berfungsi menahan luapan Krueng Meureudue. Jika gundukan ini tidak segera ditangani, risiko luapan air saat hujan deras akan semakin besar, membahayakan keselamatan dan harta benda warga yang tinggal di sekitar aliran sungai.
Harapan Penanganan Tuntas
Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya terus mendesak BWS untuk segera bertindak dan melakukan penanganan menyeluruh terhadap Krueng Meureudue. Penanganan yang sempurna sangat krusial untuk memastikan air tidak lagi meluap dan merendam rumah-rumah warga. Ini bukan hanya tentang pembersihan, tetapi juga tentang pencegahan bencana di masa depan.
Upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, BWS, dan mungkin juga lembaga terkait lainnya, menjadi kunci keberhasilan penanganan ini. Sumber daya, baik alat berat maupun tenaga ahli, harus dikerahkan secara maksimal untuk membersihkan lumpur dan mengembalikan fungsi normal sungai. Solidaritas dan dukungan dari berbagai pihak akan sangat membantu percepatan pemulihan.
Masyarakat Pidie Jaya berharap agar masalah penumpukan lumpur ini segera teratasi sehingga mereka bisa kembali hidup tenang tanpa dihantui ancaman banjir. Pemulihan ini bukan hanya sekadar membersihkan sungai, tetapi juga mengembalikan harapan dan kehidupan normal bagi seluruh warga Pidie Jaya yang terdampak bencana.
Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
- Gambar Utama dari aceh.tribunnews.com
- Gambar Kedua dari liputan6.com