Aceh Indonesia

  • |

    Pidie Jaya Darurat! Sungai Tertimbun Lumpur Setinggi Rumah, Warga Terancam Banjir Susulan!

    Lumpur setinggi rumah menumpuk di Sungai Krueng Meureudue, mengancam warga Pidie Jaya dengan banjir susulan.

    Lumpur setinggi rumah menumpuk di Sungai Krueng Meureudue

    Hampir dua bulan pascabanjir bandang November 2025, Pidie Jaya masih dilanda duka dan ancaman. Sungai utama, terutama Krueng Meureudue, tertimbun lumpur tebal, menghambat aktivitas warga, mengganggu distribusi logistik, dan menimbulkan kekhawatiran banjir susulan yang lebih parah jika hujan deras kembali turun.

    Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Aceh di bawah ini hanya ada di Aceh Indonesia.

    Bencana Menghampiri, Lumpur Menggunung

    Banjir bandang November 2025 meninggalkan kehancuran serius di Pidie Jaya. Dasar Sungai Krueng Meureudue tertimbun lumpur setinggi 3–4 meter, setara tinggi rumah penduduk, menghambat aliran air secara drastis dan menciptakan pemandangan mengkhawatirkan.

    Kondisi diperparah curah hujan tinggi di wilayah tersebut. Setiap hujan deras, sungai sering meluap dan menggenangi kembali jalan yang sebelumnya dibersihkan. Akibatnya, beberapa kecamatan seperti Meurah Dua kembali terendam, menyulitkan mobilitas warga dan menghambat pemulihan pascabanjir.

    Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya telah melakukan penanganan awal, termasuk membersihkan kayu terbawa banjir di DAS Krueng Meureudue. Tantangan utama masih pada pembersihan lumpur masif, yang membutuhkan peralatan dan penanganan khusus. Skala bencana ini membutuhkan intervensi pihak yang lebih berwenang.

    Kendala Berat Dalam Pembersihan

    Proses pembersihan lumpur di Krueng Meureudue menghadapi kendala besar, terutama terkait alat berat yang dibutuhkan. Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, menjelaskan bahwa alat berat yang ada tidak mampu membersihkan lumpur karena kerap tenggelam dalam gumpalan lumpur yang tebal. Kondisi ini membuat upaya pembersihan menjadi sangat sulit dan memakan waktu.

    Selain masalah teknis, wewenang penanganan lumpur di sungai juga menghambat proses pembersihan. Lumpur di Krueng Meureudue menjadi tanggung jawab Balai Wilayah Sungai (BWS), bukan sepenuhnya pemerintah daerah. Oleh karena itu, Pemkab Pidie Jaya telah melaporkan kondisi ini kepada BWS agar segera ditangani secara komprehensif.

    Keterbatasan alat dan kewenangan yang terbagi menyebabkan penanganan lumpur berjalan lambat. Meskipun tim di lapangan bekerja keras, volume lumpur yang sangat besar dan kendala alam, seperti hujan terus-menerus, membuat proses pemulihan terhambat. Koordinasi dan bantuan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini secara efektif.

    Baca Juga: Bandara Jakarta Digegerkan Penyelundupan 1,9 Kg Sabu Dari Aceh

    Ancaman Banjir Susulan Menghantui

     Ancaman Banjir Susulan Menghantui​

    Dengan kondisi dasar sungai yang masih tertimbun lumpur tebal, ancaman banjir susulan menjadi sangat nyata bagi masyarakat Pidie Jaya. Ketika curah hujan kembali meningkat, kapasitas sungai untuk menampung volume air menjadi sangat terbatas. Akibatnya, air akan dengan mudah meluap dan menggenangi permukiman warga, bahkan ke rumah-rumah.

    Meskipun beberapa ruas jalan di Kecamatan Meurah Dua sempat dibersihkan, tingginya curah hujan menyebabkan jalan-jalan tersebut kembali tergenang. Contohnya di Meunasah Bie, jalanan yang tadinya sudah bersih kini kembali terendam air. Hal ini menunjukkan betapa rentannya wilayah tersebut terhadap luapan air sungai yang disebabkan oleh penumpukan lumpur.

    Sibral Malasyi juga menyoroti pentingnya membersihkan gundukan tanah di pinggir jalan yang seharusnya berfungsi menahan luapan Krueng Meureudue. Jika gundukan ini tidak segera ditangani, risiko luapan air saat hujan deras akan semakin besar, membahayakan keselamatan dan harta benda warga yang tinggal di sekitar aliran sungai.

    Harapan Penanganan Tuntas

    Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya terus mendesak BWS untuk segera bertindak dan melakukan penanganan menyeluruh terhadap Krueng Meureudue. Penanganan yang sempurna sangat krusial untuk memastikan air tidak lagi meluap dan merendam rumah-rumah warga. Ini bukan hanya tentang pembersihan, tetapi juga tentang pencegahan bencana di masa depan.

    Upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, BWS, dan mungkin juga lembaga terkait lainnya, menjadi kunci keberhasilan penanganan ini. Sumber daya, baik alat berat maupun tenaga ahli, harus dikerahkan secara maksimal untuk membersihkan lumpur dan mengembalikan fungsi normal sungai. Solidaritas dan dukungan dari berbagai pihak akan sangat membantu percepatan pemulihan.

    Masyarakat Pidie Jaya berharap agar masalah penumpukan lumpur ini segera teratasi sehingga mereka bisa kembali hidup tenang tanpa dihantui ancaman banjir. Pemulihan ini bukan hanya sekadar membersihkan sungai, tetapi juga mengembalikan harapan dan kehidupan normal bagi seluruh warga Pidie Jaya yang terdampak bencana.

    Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    • Gambar Utama dari aceh.tribunnews.com
    • Gambar Kedua dari liputan6.com
  • |

    Bandara Jakarta Digegerkan Penyelundupan 1,9 Kg Sabu Dari Aceh

    Petugas keamanan Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, berhasil menggagalkan upaya penyelundupan narkoba jenis sabu seberat 1,9 kilogram.

    Bandara Jakarta Digegerkan Penyelundupan 1,9 Kg Sabu Dari Aceh

    NF alias SN, seorang pria asal Pidie, Aceh, ditangkap saat hendak terbang ke Jakarta. ​Penangkapan ini membuka tabir praktik penyelundupan narkoba yang melibatkan sindikat lintas provinsi dan menunjukkan betapa seriusnya ancaman narkoba di Indonesia.​

    Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Aceh di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Aceh Indonesia.

    Kronologi Penangkapan Dan Modus Operandi

    Penangkapan terjadi pada Kamis, 25 Desember 2025 siang, ketika petugas Avsec Bandara Sultan Iskandar Muda memeriksa barang bawaan NF. Kecurigaan muncul setelah petugas menemukan bungkusan mencurigakan di dalam koper tersangka. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, bungkusan tersebut dipastikan berisi sabu, membenarkan dugaan awal petugas.

    Dalam interogasi awal, NF alias SN mengakui perbuatannya dan mengungkapkan bahwa sabu tersebut adalah milik seseorang berinisial Muslim yang berada di Pidie. Pengakuan ini memberikan petunjuk awal mengenai jaringan di balik upaya penyelundupan tersebut. Tersangka juga mengaku diupah sebesar Rp 40 juta untuk melancarkan aksinya ini.

    Kasus ini kemudian diserahkan kepada pihak kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut. NF alias SN dan barang bukti sabu diamankan. Menandai keberhasilan petugas bandara dalam menjalankan tugas pengamanan wilayah udara dari ancaman peredaran narkoba.

    Jejak Perjalanan Narkoba Dan Jaringan Pelaku

    Selama pemeriksaan, NF alias SN mengungkapkan bahwa ia mendapatkan sabu tersebut dari seorang rekan berinisial Si Wan di pinggiran kota Panton Labu, Aceh Utara, pada Selasa, 23 Desember 2025. Pengakuan ini memperjelas alur distribusi narkoba sebelum akhirnya sampai ke tangan tersangka untuk diselundupkan.

    Terungkap pula bahwa ini bukanlah kali pertama NF alias SN terlibat dalam penyelundupan narkoba. Ia mengaku telah berhasil membawa narkoba ke daerah berbeda sebanyak tiga kali sebelumnya. Keberhasilan NF dalam lolos di bandara-bandara berbeda menunjukkan adanya celah yang dimanfaatkan oleh jaringan narkoba.

    Pengakuan NF juga mengungkap bahwa ia pernah membawa 1,5 kg sabu dari Batam ke Mataram dengan upah Rp 40 juta atas perintah Muhammad Rizky. Selain itu, ia juga menyelundupkan 1 kg sabu dari Batam ke Surabaya atas suruhan Muslim dengan upah Rp 20 juta. Serta 2 kg sabu dari Pekanbaru ke Mataram dengan upah Rp 50 juta, juga atas suruhan Muslim.

    Baca Juga: Gempa M 4,0 Guncang Nagan Raya Aceh, Warga Sempat Panik

    Target Penyelundupan Dan Peran Jaringan

    Target Penyelundupan Dan Peran Jaringan

    Tujuan akhir dari penyelundupan sabu yang dilakukan NF alias SN adalah kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Mataram, dan Surabaya. Pola ini menunjukkan bahwa jaringan narkoba memiliki jangkauan operasi yang luas. Memanfaatkan rute penerbangan domestik untuk mendistribusikan barang haram mereka ke berbagai wilayah.

    Nama-nama seperti Muslim, Si Wan, dan Muhammad Rizky yang disebut oleh NF alias SN mengindikasikan adanya sindikat terorganisir di balik operasi ini. Masing-masing memiliki peran dalam menyediakan barang, mengatur pengiriman, hingga membayar kurir. Keterlibatan beberapa individu ini menyoroti kompleksitas jaringan narkoba yang beroperasi di Indonesia.

    Penyelidikan lebih lanjut oleh tim gabungan kepolisian saat ini difokuskan pada pengembangan kasus untuk mengidentifikasi dan menangkap dalang di balik jaringan tersebut. Ciri-ciri dari tiga nama yang disebut oleh NF alias SN telah diketahui dan mereka telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

    Ancaman Hukuman Dan Komitmen Pemberantasan

    Tersangka NF alias SN dijerat dengan Pasal 609 Ayat (2) huruf a UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana Sub Pasal 114 Ayat (2) Sub Pasal 115 Ayat (2) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pasal-pasal ini menunjukkan keseriusan negara dalam memerangi kejahatan narkoba dengan ancaman hukuman yang berat.

    Ancaman hukuman untuk kejahatan narkoba ini tidak main-main, meliputi pidana mati, penjara seumur hidup, atau penjara paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun. Selain itu, ada denda paling sedikit satu miliar rupiah dan paling banyak sepuluh miliar rupiah, ditambah sepertiga. Hukuman berat ini diharapkan dapat memberikan efek jera bagi para pelaku.

    Kasus ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang berani terlibat dalam peredaran narkoba. Komitmen pemerintah dan aparat penegak hukum untuk memberantas narkoba hingga ke akar-akarnya terus digaungkan. Kerjasama antara masyarakat dan aparat sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari ancaman narkoba.

    Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    • Gambar Utama dari detik.com
    • Gambar Kedua dari voi.id
  • Gempa M 4,0 Guncang Nagan Raya Aceh, Warga Sempat Panik

    Gempa bumi magnitudo 4,0 mengguncang Nagan Raya Aceh, getaran dirasakan warga, namun belum ada laporan kerusakan serius.

    Gempa M 4,0 Guncang Nagan Raya Aceh, Warga Sempat Panik

    Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,0 mengguncang wilayah Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, dan sempat membuat warga panik. Getaran dirasakan cukup jelas oleh masyarakat, terutama mereka yang berada di dalam rumah dan bangunan bertingkat.

    Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Aceh di bawah ini hanya ada di Aceh Indonesia.

    Detik-detik Gempa dan Reaksi Warga

    Gempa dirasakan warga selama beberapa detik. Getaran tersebut membuat perabot rumah tangga bergoyang dan sebagian warga mendengar suara gemuruh dari dalam tanah.

    Beberapa warga yang sedang beristirahat langsung terbangun dan berhamburan keluar rumah. Kepanikan sempat terjadi, terutama di kawasan permukiman padat penduduk dan desa-desa yang berada dekat dengan pusat getaran.

    Warga mengaku khawatir akan adanya gempa susulan. Pengalaman gempa besar yang pernah melanda Aceh di masa lalu membuat masyarakat lebih sensitif terhadap setiap getaran yang terjadi.

    Kondisi Nagan Raya Pasca Gempa

    Setelah gempa mereda, situasi di Kabupaten Nagan Raya berangsur kondusif. Warga mulai kembali ke rumah masing-masing setelah memastikan kondisi lingkungan sekitar aman.

    Hingga saat ini, belum ditemukan laporan kerusakan signifikan pada bangunan rumah, fasilitas umum, maupun infrastruktur vital. Aparat desa dan kecamatan terus melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada dampak lanjutan.

    Meski demikian, sebagian warga memilih tetap berada di luar rumah untuk sementara waktu, terutama mereka yang tinggal di bangunan lama atau rumah semi permanen.

    Karakteristik dan Kekuatan Gempa M 4,0

    Gempa dengan magnitudo 4,0 tergolong gempa berkekuatan menengah. Umumnya, gempa dengan kekuatan ini dapat dirasakan manusia, tetapi jarang menimbulkan kerusakan besar jika kedalamannya cukup dalam.

    Dampak gempa sangat bergantung pada beberapa faktor, seperti kedalaman pusat gempa, jenis tanah, serta jarak permukiman dengan episentrum. Getaran akan terasa lebih kuat jika pusat gempa berada dekat dengan permukaan.

    Aceh sendiri berada di wilayah pertemuan lempeng tektonik aktif, sehingga aktivitas gempa bumi relatif sering terjadi, baik gempa kecil maupun gempa berkekuatan menengah hingga besar.

    Baca Juga: Bantuan Darurat Aceh: Jusuf Kalla Hadir Serahkan Pangan Dan Alat Berat

    Respons Aparat dan Pemerintah Daerah

    Respons Aparat dan Pemerintah Daerah
    Aparat setempat segera melakukan koordinasi pasca gempa untuk memastikan kondisi wilayah tetap aman. Petugas dari berbagai instansi melakukan pemantauan serta pengumpulan laporan dari masyarakat.

    Pemerintah daerah mengimbau warga agar tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi. Masyarakat diminta melaporkan jika menemukan kerusakan bangunan atau dampak lain akibat gempa.

    Langkah cepat ini dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan dan untuk mencegah kepanikan berlebihan yang dapat memperburuk situasi.

    Imbauan Keselamatan bagi Masyarakat

    Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi gempa susulan. Jika kembali terjadi getaran, warga diminta segera mencari tempat aman dan menjauhi bangunan yang berpotensi roboh.

    Warga juga disarankan untuk memeriksa kondisi rumah masing-masing, terutama bagian dinding, atap, dan struktur utama bangunan. Retakan kecil sekalipun perlu diperhatikan untuk menghindari risiko lebih besar.

    Selain itu, masyarakat diharapkan tidak mudah percaya pada informasi yang beredar di media sosial tanpa sumber yang jelas, guna menghindari kepanikan yang tidak perlu.

    Aceh sebagai Wilayah Rawan Gempa

    Aceh dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan gempa di Indonesia. Letaknya yang berada di jalur pertemuan lempeng membuat wilayah ini kerap mengalami aktivitas seismik.

    Sejarah mencatat Aceh pernah mengalami gempa besar yang menimbulkan dampak luar biasa. Oleh karena itu, setiap gempa, sekecil apa pun, menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pemerintah.

    Peningkatan edukasi kebencanaan menjadi hal penting agar masyarakat lebih siap dan memahami langkah penyelamatan diri saat gempa terjadi.

    Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    • Gambar Utama dari KBA.ONE
    • Gambar Kedua dari Tribunkaltara.com
  • |

    Bantuan Darurat Aceh: Jusuf Kalla Hadir Serahkan Pangan Dan Alat Berat

    Jusuf Kalla salurkan bantuan pangan dan alat berat untuk Aceh, bantu pemulihan pasca bencana dan dukung pembangunan wilayah.

    Bantuan Darurat Aceh: Jusuf Kalla Hadir Serahkan Pangan Dan Alat Berat

    Kehadiran Jusuf Kalla mencerminkan kepedulian nyata serta kerja sama antara tokoh nasional dan pemerintah daerah, memastikan bantuan tersalurkan secara tepat dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Aceh. Aceh Indonesia ini akan membahas rincian bantuan, tujuan program, dan dampak positif yang diharapkan bagi warga setempat.

    Aceh Terima Bantuan Kemanusiaan Dari Jusuf Kalla Dan PMI

    Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, menerima bantuan kemanusiaan yang disalurkan oleh Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), M Jusuf Kalla. Bantuan tersebut mencakup logistik pangan dan peralatan berat, termasuk mini eskavator serta mesin penyedot lumpur.

    Untuk mempercepat proses pemulihan pasca banjir di Aceh Utara. Mualem mengapresiasi bantuan ini, yang tidak hanya bernilai materi, tetapi juga memberikan dorongan moral bagi masyarakat yang tengah berupaya pulih dari dampak bencana.

    Kehadiran Jusuf Kalla dan bantuan ini menunjukkan bahwa Aceh mendapat dukungan nyata dari berbagai pihak. Ini sangat berarti bagi rakyat kami, ujarnya.

    Ragam Bantuan Dan Manfaatnya Bagi Masyarakat

    Bantuan yang diberikan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan vital warga terdampak bencana, mulai dari paket pangan, peralatan kebersihan. Hingga alat berat yang digunakan untuk menyingkirkan sisa material banjir di lingkungan pemukiman.

    Mesin penyedot lumpur dan mini eskavator diharapkan dapat mempercepat proses pembersihan infrastruktur, jalan, dan rumah-rumah warga sehingga kehidupan normal dapat segera pulih. Selain itu, paket pangan yang disalurkan membantu mencukupi kebutuhan pokok warga, khususnya bagi mereka yang terdampak bencana dan kehilangan akses terhadap pasokan makanan.

    Bantuan ini bertujuan agar masyarakat tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari selama proses pemulihan berlangsung.

    Baca Juga: TNI Bangun Jembatan Gantung di Lubuk Sidup, Akses Warga Aceh

    Kepedulian PMI Dan Jusuf Kalla Sebagai Dukungan Kemanusiaan

    Kepedulian PMI Dan Jusuf Kalla Sebagai Dukungan Kemanusiaan 700

    Bantuan tersebut mencerminkan kepedulian dan solidaritas nyata dari PMI Nasional serta Jusuf Kalla terhadap masyarakat Aceh. Program kemanusiaan ini tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga menjadi dorongan moral bagi warga yang terdampak bencana.

    Mualem menekankan bahwa bantuan ini menjadi simbol dukungan yang memperkuat semangat dan rasa percaya diri masyarakat Aceh. Selain nilai materinya, bantuan ini juga berfungsi sebagai motivasi bagi warga untuk bangkit dan memulihkan kehidupan pasca bencana.

    Transparansi Dan Optimalisasi Bantuan

    Pemerintah Aceh menegaskan bahwa semua bantuan yang diterima akan dikelola secara efektif, transparan, dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan masyarakat. Langkah ini diambil agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat maksimal bagi warga.

    Atas nama Pemerintah Aceh dan seluruh masyarakat, kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Jusuf Kalla beserta jajaran PMI Nasional, ujar Mualem. Bantuan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat dalam menangani dampak pasca bencana.

    Dengan adanya bantuan tersebut, Aceh tidak hanya memperoleh dukungan berupa materi, tetapi juga mendapatkan semangat dan harapan baru bagi warga untuk segera pulih dan melanjutkan aktivitas sehari-hari dengan normal. Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    • Gambar Utama dari aceh.antaranews.com
    • Gambar Kedua dari noa.co.id
  • TNI Bangun Jembatan Gantung di Lubuk Sidup, Akses Warga Aceh

    Pembangunan jembatan gantung oleh TNI di Desa Lubuk Sidup, Kabupaten Aceh Tamiang, menjadi solusi nyata bagi peningkatan akses masyarakat.

    Lubuk Sidup, Akses Warga Aceh

    Infrastruktur ini mempermudah aktivitas warga, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga layanan kesehatan. Melalui semangat gotong royong dan kemanunggalan TNI dengan rakyat, jembatan gantung ini menghadirkan keamanan dan kenyamanan bagi warga desa.

    Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Aceh di bawah ini hanya ada di Aceh Indonesia.

    TNI Bangun Jembatan Gantung di Desa Lubuk Sidup Aceh Tamiang

    Tentara Nasional Indonesia (TNI) membangun jembatan gantung di Desa Lubuk Sidup, Kabupaten Aceh Tamiang, sebagai upaya meningkatkan aksesibilitas dan keselamatan warga. Pembangunan jembatan ini dilakukan untuk menggantikan jalur penyeberangan lama yang selama ini rawan dan membahayakan masyarakat, terutama saat musim hujan.

    Desa Lubuk Sidup selama bertahun-tahun mengalami keterbatasan akses akibat kondisi geografis yang terpisah oleh sungai. Warga sebelumnya mengandalkan rakit sederhana atau menyeberang dengan berjalan kaki saat debit air rendah. Kondisi tersebut kerap menyulitkan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.

    Melihat kondisi itu, TNI melalui program kemanunggalan TNI dengan rakyat turun langsung membantu masyarakat. Pembangunan jembatan gantung ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk memperlancar mobilitas warga desa dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat.

    Aksi Nyata TNI Bangun Infrastruktur Desa

    Pembangunan jembatan gantung ini melibatkan personel TNI bersama masyarakat Desa Lubuk Sidup. Mereka bergotong royong mulai dari tahap persiapan lahan, pemasangan tiang penyangga, hingga perakitan rangka jembatan. Semangat kebersamaan terlihat jelas selama proses pembangunan berlangsung.

    Komandan satuan TNI di wilayah tersebut menyampaikan bahwa pembangunan jembatan ini merupakan bentuk kepedulian TNI terhadap kebutuhan dasar masyarakat, khususnya infrastruktur desa. Menurutnya, akses yang baik menjadi kunci utama dalam mendorong kemajuan ekonomi dan sosial masyarakat pedesaan.

    Selain membantu pembangunan fisik, kehadiran TNI juga memberikan rasa aman dan motivasi bagi warga. Sinergi antara TNI dan masyarakat diharapkan dapat terus terjalin dalam berbagai kegiatan pembangunan lainnya di wilayah Aceh Tamiang.

    Baca Juga: Aceh Hari Ini: Gelombang 2,5 Meter, Nelayan Diminta Waspada

    Jembatan Gantung Permudah Aktivitas Warga

    Jembatan Gantung Permudah Aktivitas Warga

    Dengan dibangunnya jembatan gantung ini, warga Desa Lubuk Sidup kini dapat beraktivitas dengan lebih aman dan efisien. Anak-anak sekolah tidak lagi harus menunggu air surut untuk menyeberang sungai, sementara petani dapat dengan mudah membawa hasil panen ke pasar.

    Jembatan gantung ini juga memudahkan akses menuju fasilitas kesehatan dan pusat pemerintahan desa. Sebelumnya, warga harus menempuh perjalanan memutar dengan jarak yang cukup jauh. Kini, waktu tempuh dapat dipersingkat sehingga aktivitas sehari-hari menjadi lebih lancar.

    Warga setempat menyambut baik pembangunan jembatan tersebut. Mereka mengaku sangat terbantu dan berharap jembatan ini dapat dirawat bersama agar bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama dan memberikan manfaat berkelanjutan.

    Mendorong Masa Depan Pembangunan Aceh Tamiang

    Pemerintah desa menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada TNI atas bantuan pembangunan jembatan gantung tersebut. Menurut aparat desa, keberadaan jembatan ini menjadi bukti nyata kehadiran negara di tengah masyarakat, khususnya di daerah terpencil.

    Pembangunan jembatan gantung di Desa Lubuk Sidup diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi desa. Dengan akses yang lebih baik, potensi pertanian, perdagangan, dan sektor lainnya dapat berkembang lebih optimal dan meningkatkan kesejahteraan warga.

    Ke depan, sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan terus berlanjut dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Aceh Tamiang. Jembatan gantung ini menjadi simbol kerja sama dan gotong royong demi kemajuan desa dan kesejahteraan masyarakat.

    Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    1. Gambar Utama dari aceh.antaranews.com
    2. Gambar Kedua dari mediaindonesia.com
  • Aceh Hari Ini: Gelombang 2,5 Meter, Nelayan Diminta Waspada

    BMKG peringatkan gelombang tinggi 2,5 meter di perairan Aceh hari ini. Nelayan dan warga pesisir diminta tetap waspada.

    Aceh Hari Ini: Gelombang 2,5 Meter, Nelayan Diminta Waspada

    Perairan Aceh hari ini mengalami gelombang tinggi mencapai 2,5 meter. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau nelayan dan warga pesisir untuk tetap waspada dan menghindari aktivitas di laut selama kondisi ini berlangsung.

    Peringatan dini Aceh Indonesia ini diharapkan dapat meminimalkan risiko kecelakaan laut dan kerugian material bagi masyarakat.

    Gelombang 2,5 Meter Landai Perairan Aceh, Nelayan Diminta Waspada

    BMKG Aceh memperingatkan adanya gelombang tinggi mencapai 2,5 meter yang melanda sejumlah wilayah perairan Provinsi Aceh hari ini, Senin (12/1/2026). Peringatan ini ditujukan kepada seluruh nelayan, operator kapal, dan warga pesisir agar berhati-hati dan menghindari aktivitas di laut saat kondisi berbahaya berlangsung.

    Prakirawan BMKG Aceh, Nabila, menyampaikan bahwa gelombang tinggi diprediksi terjadi di lintasan Sabang-Banda Aceh, perairan Aceh Besar Meulaboh, perairan Aceh Barat Daya Simeulu, perairan selatan Simeulu, serta perairan Aceh Singkil Pulau Banyak. Kondisi ini termasuk kategori gelombang sedang, yang cukup berisiko bagi kapal kecil dan nelayan tradisional.

    Kondisi Cuaca Dan Angin Di Perairan Aceh

    Selain gelombang tinggi, BMKG memprediksi kecepatan angin di perairan Aceh mencapai 20 km/jam dari arah tenggara. Suhu udara berada di kisaran 18–31°C dengan kelembaban relatif antara 60–100 persen.

    Prakirawan Nabila mengimbau nelayan dan penyedia jasa penyebrangan untuk tidak memaksakan berlayar jika gelombang dan angin memburuk. Kapal pelayaran dan perahu kecil disarankan menunda keberangkatan hingga kondisi laut lebih aman.

    Langkah ini diambil sebagai antisipasi agar risiko kecelakaan laut dapat diminimalkan.

    Baca Juga: Pemerintah Percepat Pembangunan Hunian Sementara untuk Korban Bencana Sumatera

    Hujan Dan Cuaca Ekstrem Di Beberapa Wilayah Aceh

    Hujan Dan Cuaca Ekstrem Di Beberapa Wilayah Aceh 700

    Selain gelombang tinggi, beberapa wilayah Aceh diprediksi diguyur hujan disertai angin kencang, kilat, dan petir. Wilayah yang berpotensi hujan deras antara lain Aceh Tenggara dan Aceh Selatan.

    Sementara Aceh Tengah dan Aceh Barat Daya berpeluang mengalami hujan ringan pada siang hingga sore hari. BMKG menekankan bahwa musim transisi identik dengan perubahan cuaca yang fluktuatif dan bisa terjadi secara tiba-tiba.

    Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk selalu memantau informasi cuaca terkini melalui situs resmi BMKG atau aplikasi cuaca terpercaya.

    Imbauan Waspada Untuk Nelayan Dan Masyarakat Pesisir

    Nabila menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat, khususnya nelayan dan penyedia jasa transportasi laut. Mereka diminta selalu memperhatikan kondisi laut dan cuaca sebelum berangkat.

    Apabila terjadi hujan deras, kilat, petir, angin kencang, atau gelombang tinggi, aktivitas di laut sebaiknya dihentikan sementara hingga kondisi aman. Peringatan ini juga berlaku bagi masyarakat yang tinggal di pesisir, agar tetap waspada terhadap potensi banjir rob atau gelombang yang masuk ke daratan.

    BMKG berharap dengan kewaspadaan dini, risiko kerugian materi maupun korban jiwa dapat diminimalkan. Dengan kondisi cuaca yang fluktuatif saat musim transisi, informasi cuaca terkini menjadi kunci keselamatan warga pesisir dan nelayan Aceh.

    Waspada, patuhi peringatan, dan utamakan keselamatan di atas segalanya. Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    • Gambar Utama dari rri.co.id
    • Gambar Kedua dari rri.co.id
  • |

    Banjir Bandang di Bireuen, Warga Mengungsi Tanpa Kepastian

    Banjir bandang melanda Bireuen, membuat ratusan warga terpaksa mengungsi sementara tanpa kepastian kapan bisa kembali.

    Banjir Bandang di Bireuen, Warga Mengungsi Tanpa Kepastian

    Banjir bandang di Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, menyisakan duka mendalam. Ratusan warga terpaksa bertahan di pengungsian karena rumah mereka terendam lumpur tebal. Setiap hari mereka membersihkan sisa banjir, namun setiap malam kembali menunggu bantuan agar bisa kembali hidup normal.

    Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Aceh di bawah ini hanya ada di Aceh Indonesia.

    Nestapa Pengungsi Akibat Lumpur Dan Kerusakan Parah

    Hingga Sabtu (10/1/2026), ratusan warga dari sejumlah desa di Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, masih belum bisa pulang. Rumah mereka terendam lumpur pascabanjir bandang. Meskipun pada siang hari warga mencoba membersihkan rumah, namun kondisi yang belum memungkinkan membuat mereka harus bermalam di posko pengungsian.

    Lumpur tebal masih menutupi lantai dan dinding rumah, serta banyak perabotan rusak. Ini memaksa para korban untuk terus tinggal di pengungsian setiap malam. Posko pengungsian tersebar di berbagai lokasi, termasuk masjid, meunasah, dan tenda darurat yang didirikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    Kondisi rumah yang dipenuhi lumpur dengan ketebalan menyulitkan proses pembersihan. Upaya pembersihan ini membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit. Warga terdampak terus berjuang di tengah keterbatasan untuk mengembalikan kondisi rumah mereka.

    Data Kerusakan Dan Desa Terdampak

    Banjir bandang ini mengakibatkan kerusakan parah pada pemukiman warga. Sebanyak 1.047 unit rumah rusak berat, 520 unit rusak sedang, dan 203 unit rusak ringan. Total ada 1.770 unit rumah yang terdampak di 21 desa wilayah Peusangan Siblah Krueng.

    Desa-desa yang paling parah terdampak antara lain Kubu yang dekat jembatan Pante Lhong, Rambong Payong, Pante Baro Gle Siblah, Dayah Baro, dan Pante Baro Kumbang. Desa-desa ini berada di sekitar aliran Sungai Krueng Peusangan, menjadikannya titik paling rawan saat banjir bandang.

    Menariknya, dari 21 desa yang terdampak, terdapat lima desa yang meskipun dihantam banjir bandang, tidak mengalami kerusakan rumah sama sekali. Fenomena ini menunjukkan adanya variasi dampak bencana yang mungkin disebabkan oleh faktor geografis atau topografi setempat.

    Baca Juga: Rumah Zakat Gandeng HIMPSI Kirim Relawan Psikososial Ke Aceh

    Tantangan Hidup di Pengungsian

     Tantangan Hidup di Pengungsian​

    Warga yang masih mengungsi berasal dari Pante Baro Buket Panjang, Pante Baro Gle Siblah, Pante Baro Kumbang, Kubu, Teupin Raya, dan Rambong Payong. Kondisi rumah mereka hingga kini masih dipenuhi lumpur yang sangat tebal, membuat proses pembersihan menjadi sangat sulit dan memakan waktu.

    Hidup di pengungsian menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan fasilitas, privasi yang kurang, hingga risiko kesehatan. Meskipun pemerintah dan relawan telah mendirikan posko dan menyalurkan bantuan, kebutuhan dasar para pengungsi masih sangat besar.

    Kebutuhan akan air bersih, sanitasi layak, makanan bergizi, dan layanan kesehatan menjadi prioritas utama. Selain itu, dukungan psikososial juga penting untuk membantu warga menghadapi trauma akibat bencana. Masa depan pascabanjir masih menjadi pertanyaan besar bagi mereka.

    Langkah Penanggulangan Dan Harapan Pemulihan

    Camat Peusangan Siblah Krueng terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan pascabanjir. Upaya pembersihan lumpur dan perbaikan rumah menjadi fokus utama. Bantuan dari pemerintah daerah dan pusat sangat diharapkan untuk meringankan beban para korban.

    Pembangunan hunian sementara (huntara) juga menjadi salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan untuk korban yang rumahnya rusak parah. Namun, seperti yang terjadi di Aceh Timur, pembangunan huntara membutuhkan uji geologi dan perencanaan yang matang agar aman dan berkelanjutan.

    Semoga dengan kerjasama semua pihak, warga Peusangan Siblah Krueng dapat segera pulih dari bencana ini. Mereka berharap bisa kembali ke rumah yang layak dan melanjutkan kehidupan normal. Solidaritas dan bantuan terus mengalir untuk meringankan penderitaan para korban banjir bandang ini.

    Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    • Gambar Utama dari aceh.tribunnews.com
    • Gambar Kedua dari aceh.tribunnews.com
  • Rumah Zakat Gandeng HIMPSI Kirim Relawan Psikososial Ke Aceh

    Rumah Zakat bekerja sama dengan HIMPSI dan CCP UIN Ar-Raniry, kini mengirim sukarelawan psikososial ke Aceh Utara Bireuen.

    Rumah Zakat Gandeng HIMPSI Kirim Relawan Psikososial Ke Aceh

    Selain kerugian materiil, dampak psikologis, terutama bagi anak-anak dan remaja, seringkali terabaikan. ​Memahami kebutuhan krusial ini, Rumah Zakat berkolaborasi dengan para ahli psikologi untuk menyentuh hati para penyintas, membawa harapan dan pemulihan.​

    Temukan rangkuman informasi menarik dan terpercaya lainnya tentang Aceh di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di Aceh Indonesia.

    Kolaborasi Kemanusiaan, Respons Cepat Untuk Pemulihan Jiwa

    Rumah Zakat (RZ) menunjukkan kepeduliannya dengan menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Aceh dan Crisis Center Psychology (CCP) Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry. Kolaborasi strategis ini bertujuan untuk memberikan dukungan psikososial yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat terdampak banjir.

    Sebanyak sepuluh sukarelawan profesional telah diberangkatkan untuk misi kemanusiaan ini. Para sukarelawan akan fokus pada penanganan trauma dan pemulihan mental, melengkapi bantuan materiil yang sebelumnya telah disalurkan oleh Rumah Zakat.

    Menurut Riadhi, Branch Manager Rumah Zakat Aceh, layanan psikososial ini merupakan bagian integral dari upaya pemulihan pascabencana. Ini menunjukkan bahwa pemulihan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga mental dan emosional para korban.

    Fokus Layanan, Membangun Kembali Mental Dan Semangat

    Para sukarelawan akan memberikan pelayanan di sepuluh sekolah dan sepuluh titik pengungsian yang tersebar di Aceh Utara dan Bireuen. Lokasi-lokasi ini dipilih untuk menjangkau sebanyak mungkin korban, terutama anak-anak dan remaja yang paling rentan.

    Harri Santoso, koordinator program, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah memberikan dukungan psikologis, khususnya bagi anak-anak dan remaja. Mereka seringkali kesulitan mengungkapkan trauma yang dialaminya, sehingga pendampingan khusus sangat diperlukan.

    Selama satu minggu, para sukarelawan akan menyapa dan mendampingi para penyintas. Mereka akan berinteraksi di sekolah, titik pengungsian, dan desa-desa terdampak, memberikan “trauma healing” melalui berbagai aktivitas positif.

    Baca Juga: Pengabdian Guru Di Aceh Tengah: Setiap Hari Menantang Maut Demi Pendidikan

    Pentingnya Trauma Healing Pasca-Bencana

    Pentingnya Trauma Healing Pasca-Bencana

    Bencana alam, seperti banjir bandang, dapat menimbulkan trauma mendalam. Kehilangan harta benda, tempat tinggal, bahkan orang terkasih, merupakan pengalaman yang sulit diatasi tanpa dukungan yang tepat. Oleh karena itu, trauma healing menjadi sangat esensial.

    Pendampingan psikososial membantu korban memahami dan mengelola emosi mereka, mengurangi stres, dan membangun kembali resiliensi. Ini adalah langkah krusial untuk mencegah dampak jangka panjang seperti depresi atau kecemasan yang berkelanjutan.

    Program ini membuktikan bahwa pemulihan bencana tidak hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur fisik. Kesehatan mental masyarakat, terutama kelompok rentan, harus menjadi prioritas utama dalam setiap upaya penanggulangan bencana.

    Dampak Positif Dan Harapan Masa Depan

    Kehadiran para sukarelawan psikososial ini diharapkan mampu memberikan energi positif bagi para penyintas. Melalui pendampingan yang hangat dan profesional, mereka diharapkan bisa pulih dari trauma dan kembali menjalani kehidupan dengan semangat baru.

    Inisiatif Rumah Zakat bersama HIMPSI dan CCP UIN Ar-Raniry ini menjadi contoh nyata kolaborasi antarlembaga dalam misi kemanusiaan. Ini menunjukkan bahwa dengan sinergi, dampak positif yang diberikan kepada masyarakat dapat menjadi lebih besar dan berkelanjutan.

    Diharapkan, program semacam ini dapat terus berlanjut dan menginspirasi pihak lain untuk lebih memperhatikan aspek psikososial pascabencana. Pemulihan jiwa adalah fondasi penting bagi bangkitnya sebuah komunitas dari keterpurukan.

    Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    • Gambar Utama dari aceh.tribunnews.com
    • Gambar Kedua dari kompasiana.com
  • Pengabdian Guru Di Aceh Tengah: Setiap Hari Menantang Maut Demi Pendidikan

    Guru di Aceh Tengah setiap hari menempuh risiko tinggi demi memastikan pendidikan anak-anak tetap berjalan lancar.

    Pengabdian Guru Di Aceh Tengah: Setiap Hari Menantang Maut Demi Pendidikan

    Di Aceh Tengah, sejumlah guru menjalani pengabdian yang penuh tantangan setiap hari. Mereka menempuh medan sulit, cuaca ekstrem, dan risiko keselamatan demi memastikan anak-anak tetap mendapatkan pendidikan yang layak.

    Dedikasi ini menunjukkan bahwa profesi guru bukan sekadar mengajar, tetapi juga perjuangan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat, membentuk generasi masa depan, dan menjaga harapan pendidikan tetap hidup di tengah keterbatasan. Berikut ini, Aceh Indonesia akan menjelaskan lebih dalam bukan hanya tentang angka, melainkan juga tentang komitmen, kolaborasi, dan kemanusiaan yang terwujud di tengah kesulitan.

    Pengabdian Guru Di Aceh Tengah: Menembus Jalur Ekstrem Demi Pendidikan

    Para guru di SMA Negeri 44 Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, menunjukkan dedikasi luar biasa demi pendidikan anak-anak di kawasan terpencil. Setiap hari mereka harus menempuh jalur ekstrem untuk sampai ke sekolah yang berada di Kampung Bah, Kecamatan Ketol.

    Jalur tersebut hanya bisa dilalui dengan menaiki sling atau gondola, satu-satunya akses yang memungkinkan menuju sekolah. Meskipun berisiko tinggi, para guru tetap melaksanakan tugasnya tanpa kenal lelah demi memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung.

    Jalur Sling: Tantangan Ekstrem Untuk Guru Dan Siswa

    Shapriana Dewi, guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), menceritakan pengalamannya menaiki sling sebagai pengalaman pertama. Dewi menuturkan, kaki terasa dingin dan jalur yang sempit sering kali membuat jantung berdebar.

    Suasana mencekam ini terkadang menjadi bahan candaan bagi rekan-rekannya yang menunggu di luar gondola. Meski berisiko, tidak ada biaya untuk guru melewati jalur ini.

    Biaya hanya dikenakan bagi warga yang mengangkut hasil pertanian menggunakan sepeda motor, dibayarkan secara sukarela untuk perawatan sling. Jalur ekstrem ini menjadi pengingat nyata bahwa di beberapa daerah terpencil, guru harus menghadapi tantangan fisik yang jauh melampaui tugas mengajar biasa.

    Baca Juga: Kilat! Aceh Timur Kejar Target 10 Hari, Rahasia di Balik Hunian Sementara Korban Banjir Terungkap!

    Siswa Dan Tantangan Belajar Pascabencana

    Siswa Dan Tantangan Belajar Pascabencana 700

    Saat ini, sebagian besar siswa SMA Negeri 44 Takengon belum dapat hadir ke sekolah karena rumah mereka terdampak bencana dan banyak yang tinggal di posko pengungsian. Anak-anak dari Kampung Bah dan Serempah harus menempuh jalur yang sama ekstremnya jika ingin hadir, membuat orangtua khawatir dan enggan melepas anaknya.

    Akses jalan dari Serempah pun masih terdapat longsoran yang menyulitkan perjalanan. Meskipun begitu, para guru tetap berkomitmen menjalankan aktivitas belajar mengajar dan melakukan pendampingan psikologis untuk mengatasi trauma siswa.

    Jumlah siswa di sekolah ini tercatat sebanyak 45 orang dengan total 20 guru yang bertugas.

    Upaya Pemulihan Dan Komitmen Guru

    Pihak sekolah memastikan proses belajar mengajar akan kembali aktif mulai 12 Januari 2026. Para guru, meski berasal dari luar Kampung Bah dan harus menempuh perjalanan panjang dengan sepeda motor, tetap bertekad hadir setiap hari.

    Dewi menegaskan bahwa pekerjaan guru tidak bisa ditunda, namun ia berharap akses yang lebih aman dapat segera tersedia. Saat ini, jembatan darurat menuju Kampung Burlah sedang dalam pengerjaan dan diperkirakan rampung dalam pekan ini.

    Pembangunan infrastruktur ini diharapkan dapat memudahkan perjalanan guru dan siswa serta mengurangi risiko dari jalur ekstrem yang selama ini mereka hadapi. Dedikasi para guru ini menjadi simbol nyata pengabdian dalam kondisi yang paling menantang sekalipun, memastikan pendidikan tetap berjalan bagi generasi masa depan di Aceh Tengah.

    Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    • Gambar Utama dari sapanusa.id
    • Gambar Kedua dari kompasiana.com
  • Kilat! Aceh Timur Kejar Target 10 Hari, Rahasia di Balik Hunian Sementara Korban Banjir Terungkap!

    Pemerintah Aceh Timur bergerak cepat menyiapkan hunian sementara korban banjir, menargetkan penyelesaian sepuluh hari dengan strategi khusus terukur.

    Pemerintah Aceh Timur menyiapkan hunian sementara korban banjir

    Bencana banjir menyisakan duka mendalam bagi ribuan warga Aceh Timur. Namun, di tengah keterbatasan, semangat gotong royong dan kecepatan bertindak menjadi kunci. ​Pemerintah Kabupaten Aceh Timur, dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, kini berpacu dengan waktu untuk menyediakan hunian sementara (Huntara) bagi para korban.​

    Berikut ini Aceh Indonesia akan mengupas tuntas upaya luar biasa ini, dari peletakan batu pertama hingga tantangan dan harapan di balik pembangunan Huntara yang dikebut demi menyambut bulan Ramadhan.

    Pembangunan Huntara Dikebut Jelang Ramadhan

    Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, secara simbolis melakukan peletakan batu pertama pembangunan hunian sementara (Huntara) di Kecamatan Idi Rayeuk. Langkah ini menandai dimulainya proyek vital untuk menyediakan tempat tinggal layak bagi korban banjir. Momentum pembangunan ini menjadi sangat krusial, mengingat bulan suci Ramadhan sudah di depan mata.

    Pembangunan Huntara di Idi Rayeuk akan mencakup 24 unit hunian, yang diperuntukkan bagi warga terdampak banjir yang selama ini mengungsi di belakang Kantor Camat Idi Rayeuk. Al-Farlaky menegaskan bahwa percepatan pembangunan ini didasari keinginan kuat agar masyarakat korban banjir dapat menjalani Ramadhan dengan layak.

    “Hari Meugang dan bulan puasa merupakan momentum sakral bagi masyarakat Aceh. Kita ingin memastikan masyarakat korban banjir dapat melalui masa tersebut dengan tempat tinggal yang layak. Itu sebabnya pembangunan Huntara ini kita percepat,” ujar Al-Farlaky pada Jumat (9/1/2026).

    Tantangan Lahan Dan Dukungan Pusat

    Al-Farlaky mengakui adanya beberapa kendala signifikan di lapangan, terutama terkait ketersediaan dan status lahan untuk pembangunan Huntara. Beberapa lokasi strategis memerlukan penggunaan lahan milik pemerintah pusat, seperti PT KAI, maupun lahan milik swasta. Hal ini tentu memerlukan koordinasi dan persetujuan dari berbagai pihak.

    “Untuk itu, kami berharap adanya dukungan dari pemerintah pusat terkait pembebasan dan pemanfaatan lahan, sehingga ke depan tidak menimbulkan persoalan hukum,” jelasnya. Dukungan ini sangat penting untuk kelancaran proyek dan menghindari masalah hukum di kemudian hari.

    Rencana pembangunan Huntara tidak hanya terbatas di Idi Rayeuk, melainkan juga akan menjangkau sejumlah kecamatan terdampak banjir lainnya. Kecamatan-kecamatan tersebut meliputi Simpang Jernih, Serba Jadi (Lokop), Peureulak, Julok, Simpang Ulim, Pante Bidari, Madat, serta beberapa unit di Kecamatan Banda Alam.

    Baca Juga: Aceh Aman Pangan, Bulog Tambah Cadangan Beras 50 Ribu Ton

    Target Fantastis, 10 Hari Selesai Dan Fasilitas Lengkap

     ​Target Fantastis, 10 Hari Selesai Dan Fasilitas Lengkap​​

    Proses pembangunan Huntara ditargetkan rampung dalam waktu sekitar 10 hari, dengan harapan selesai pada tanggal 15. Kecepatan ini dimungkinkan berkat dukungan dari anak usaha BUMN, khususnya PT Adhi Karya, dan juga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    Warga akan dapat menempati Huntara setelah kesiapan lahan dinyatakan ‘clear’, memastikan tidak ada hambatan administratif atau hukum. Setiap unit Huntara akan dilengkapi dengan fasilitas dasar yang memadai untuk kenyamanan penghuni, seperti ranjang, kipas angin, dispenser, dan bahkan akses internet gratis.

    “Target pembangunan Huntara ini sekitar 10 hari dan ditargetkan selesai pada tanggal 15. Huntara akan dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti ranjang, kipas angin, dispenser, serta akses internet gratis,” ujar Al-Farlaky, menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membantu korban.

    Sinergi BUMN Untuk Pemulihan Pasca-Bencana

    Wakil Kepala Badan Pengatur BUMN Republik Indonesia, Teddy Barata, menegaskan komitmen BUMN dalam mendukung percepatan pembangunan Huntara. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, fokus utama adalah pemulihan pascabencana yang cepat dan efisien.

    “Fokus kita saat ini adalah Huntara, dengan penekanan pada kecepatan, karena masih banyak daerah lain yang juga membutuhkan penanganan,” jelas Teddy. Skala musibah yang sangat besar ini memerlukan sinergi dari semua pihak, termasuk BUMN, untuk memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan optimal.

    Inisiatif ini merupakan bentuk perhatian serius pemerintah pusat terhadap Provinsi Aceh, terutama dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Kerjasama antara pemerintah daerah, BUMN, dan BNPB menjadi kunci untuk mempercepat pemulihan dan memastikan warga terdampak bisa bangkit kembali.

    Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.


    Sumber Informasi Gambar:

    • Gambar Utama dari aceh.tribunnews.com
    • Gambar Kedua dari acehtimurkab.go.id