Ibu Hamil Berjuang Di Tengah Bencana, Antar Anak Ke RS Naik Motor 1 Jam
Ibu hamil terdampak bencana di Aceh rela menempuh 1 jam naik motor demi anaknya yang sakit, Kisah haru penuh perjuangan.
Di tengah bencana yang melanda Aceh, seorang ibu hamil berjuang keras. Dengan motor sebagai satu-satunya alat transportasi, ia menempuh perjalanan satu jam demi membawa anaknya yang sakit ke rumah sakit.
Kisah Aceh Indonesia haru ini menggambarkan ketegaran dan cinta seorang ibu dalam situasi yang penuh tantangan.
Perjalanan Penuh Tantangan Ke Rumah Sakit
Perjalanan Nur Asma menuju rumah sakit bukan hal mudah. Fasilitas kesehatan terdekat di wilayah Pematang Jaya, Sudajaya Hilir, sudah tidak berfungsi pascabencana.
Rumahnya hancur, dan kini keluarga harus tinggal dalam kondisi darurat, dengan kamar mandi seadanya terbuat dari sisa kayu dan material bangunan. Sesampai di RS, Nur Asma masih harus menunggu antrean sekitar satu jam sebelum putrinya bisa mendapatkan pelayanan medis.
Situasi ini menambah beban fisik dan emosional bagi ibu hamil yang sudah harus menghadapi risiko kesehatan sendiri. Meski begitu, Nur Asma tetap tegar demi keselamatan anaknya, sambil terus berharap mendapatkan bantuan yang benar-benar sampai ke tangan keluarga mereka.
Krisis Ekonomi Dan Dampaknya Pada Kesehatan
Kehidupan Nur Asma dan keluarganya semakin sulit karena mereka sama-sama kehilangan pekerjaan pascabencana. Kini, dalam satu rumah kecil, tinggal 10 anggota keluarga, termasuk anak-anak, nenek, kakek, dan saudara lain.
Sebelum bencana, kebutuhan makan mereka bisa terpenuhi hingga 10 kilo beras untuk beberapa minggu, namun sekarang hanya tersisa satu kilo untuk seluruh anggota keluarga. Krisis ekonomi ini berdampak langsung pada kesehatan anak dan ibu hamil.
Anak Nur Asma mengalami kekurangan gizi, sementara Nur Asma sendiri memiliki kadar hemoglobin rendah yang berisiko bagi ibu dan janin, termasuk kelahiran prematur, ibu lemas, hingga komplikasi kehamilan. Mereka harus mengandalkan tumbuhan liar seperti genjer dari pekarangan yang tersisa untuk bertahan hidup, diolah seadanya demi memenuhi kebutuhan gizi dasar.
Baca Juga: Alarm Bahaya! Banjir Aceh Ungkap Krisis Lingkungan, Restorasi Mendesak
Harapan Akan Bantuan Nyata
Ironisnya, meski rumahnya tidak tampak terlalu rusak dari luar, Nur Asma hanya menerima bantuan sekali pascabencana. Ia berharap ada bantuan nyata untuk kelangsungan hidup keluarga, termasuk perlengkapan bayi untuk persiapan melahirkan, bahan makanan, dan perlengkapan sekolah untuk anak-anak.
Harapan terbesar adalah agar suaminya dapat kembali bekerja, sehingga keluarga bisa bertahan hidup secara mandiri. Kisah ini menjadi pengingat betapa pentingnya distribusi bantuan yang tepat sasaran dan cepat pascabencana.
Nur Asma bukan hanya membutuhkan bantuan jangka pendek, tetapi juga dukungan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan anak-anaknya.
Ketegaran Ibu Hamil Di Tengah Bencana
Cerita Nur Asma menyoroti ketegaran ibu hamil dalam menghadapi tantangan luar biasa. Ia harus menempuh perjalanan jauh, mengatasi keterbatasan pascagempa, dan memastikan keselamatan anaknya yang sakit.
Perjuangan ini mencerminkan realitas pahit yang dihadapi banyak keluarga terdampak bencana di Aceh. Kisah ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah dan organisasi kemanusiaan untuk lebih cepat menyalurkan bantuan, memperhatikan kondisi kesehatan ibu hamil, anak-anak, serta keluarga yang tinggal di daerah terdampak.
Nur Asma kini hanya bisa berharap ada tangan yang menolong demi masa depan keluarganya yang lebih aman dan sehat. Waspada, patuhi peringatan, dan utamakan keselamatan di atas segalanya.
Jangan lewatkan update berita seputaran Aceh Indonesia serta berbagai informasi menarik lainnya yang akan memperluas wawasan Anda.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari health.detik.com
- Gambar Kedua dari idn.freepik.com